Mengatasi Hoaks dan Meningkatkan Literasi Politik di Kalangan Pemilih Muda Menuju Pemilu 2024

Tim Redaksi

Angkatan muda di Indonesia tampaknya semakin bersemangat untuk meramaikan pesta demokrasi yang akan datang pada tahun 2024. Namun, disamping antusiasme tersebut, muncul perhatian besar terhadap persebaran hoaks dan misinformasi di kalangan para pemilih muda.

Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (GMPK) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, telah mengambil langkah konkret untuk menghadapi tantangan ini.

Mereka telah menggelar seminar kebangsaan dengan tema ‘Tantangan Pemuda Dalam Status Quo Pemilu 2024’, yang diadakan di kampus IAIN Kudus pada tanggal 5 Juli 2023.

Ketua DPC GMPK Kudus, M Fikri Sonhaji, dalam pernyataannya kepada wartawan, menyatakan kepedulian mendalam terhadap masalah hoaks dan misinformasi yang beredar di tengah-tengah para pemilih muda.

“Kami sangat menekankan literasi untuk angkatan muda yang merupakan pemilih pemula pada pemilu 2024 nanti. Angkatan muda ini diharapkan menjadi pemilih yang rasional, mandiri, dan bertanggung jawab, sehingga dapat merajut nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi,” ujar Fikri.

Salah satu tujuan dari seminar tersebut adalah memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada pemilih pemula tentang proses penyelenggaraan pemilu dan peran partai politik sebagai pesertanya.

Fikri menjelaskan bahwa literasi politik yang dilakukan selama ini hanya terfokus pada aspek waktu dan teknis pemilihan.

Namun, literasi politik yang lebih komprehensif diperlukan agar pemilih muda dapat lebih cerdas dan paham akan peran mereka dalam menjaga integritas pemilu.

Fikri juga menyoroti peran aktif yang dapat diambil oleh para pemilih pemula dalam menghadapi tantangan hoaks dan disinformasi.

Pertama, mereka dapat mengawal pemilu dengan turut aktif mengedukasi orang di sekitarnya mengenai hoaks dan disinformasi yang beredar serta terlibat dalam melaporkan konten berbahaya.

Kedua, para pemilih pemula memiliki tanggung jawab untuk menghentikan penyebaran hoaks dengan memfilter konten sebelum disebarkan melalui media sosial mereka.

“Saya kira pemilih pemula juga harus ikut aktif memantau akun media sosial pelaksana dan peserta kampanye, iklan kampanye, dan konten negatif yang membawa kepada tindakan kebencian, demi terwujudnya pemilu bersih dan damai,” tambah Fikri.

Seminar yang diadakan oleh GMPK Kudus ini diharapkan dapat menjadi langkah awal yang efektif dalam meningkatkan literasi politik dan kesadaran akan pentingnya peran aktif para pemilih pemula dalam menjaga integritas dan kebersihan pemilu.

Dengan kolaborasi yang kuat antara berbagai pihak, Indonesia dapat menghadapi tantangan hoaks dan misinformasi dengan lebih baik dan mewujudkan pemilu yang demokratis dan bermartabat pada tahun 2024.

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar